Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Manajemen risiko dan kepatuhan di layanan kesehatan sedang berubah. Jika dulu fokusnya memastikan aturan dipatuhi, kini perannya berkembang menjadi mitra strategis bisnis. Perubahan ini dipicu oleh cepatnya adopsi teknologi digital dan AI, dinamika regulasi, serta meningkatnya keterlibatan tenaga medis dan pasien.

Dalam kondisi tersebut, manajemen risiko dan kepatuhan tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan unit bisnis menjadi kebutuhan utama.

Manajemen risiko layanan kesehatan yang efektif menuntut kolaborasi dua arah. Unit bisnis seperti operasional, IT, dan pengembangan produk bertanggung jawab memantau risiko di area masing-masing. Sementara itu, tim manajemen risiko dan kepatuhan menggabungkan seluruh informasi tersebut untuk membentuk gambaran risiko perusahaan secara menyeluruh.

Bersama pimpinan perusahaan, risiko paling signifikan dipilih untuk menjadi prioritas. Peran manajemen risiko di sini adalah menyatukan perspektif, meningkatkan transparansi, dan menjaga fokus pada risiko yang benar-benar berdampak.

Analitik digital dan AI mempercepat kolaborasi ini. Teknologi memungkinkan pemantauan risiko secara real-time, mendeteksi pola masalah lebih awal, dan membantu organisasi bergerak lebih proaktif.

AI dapat menyaring aktivitas berisiko tinggi dan memantau mitra atau pemasok secara otomatis. Namun teknologi tetap membutuhkan penilaian manusia. Pengalaman dan pemahaman konteks tetap penting untuk menentukan respons yang tepat. Kombinasi keduanya membuat manajemen risiko lebih akurat dan strategis.

Banyak organisasi mulai menata ulang struktur kerja, membentuk pusat keahlian, dan memanfaatkan digitalisasi untuk mengurangi beban administratif. Dengan begitu, tim risiko bisa lebih fokus pada isu strategis dan risiko yang sedang berkembang.

Kolaborasi yang kuat dalam manajemen risiko layanan kesehatan memberikan manfaat nyata: meningkatnya kepercayaan regulator dan pasien, proses kepatuhan yang lebih lancar, reputasi yang lebih baik, serta keputusan bisnis yang lebih cepat dan tepat. Transparansi, data, dan analitik real-time membuat organisasi lebih siap menghadapi perubahan.

Lima Langkah Penting

Untuk mendorong kolaborasi yang efektif, organisasi perlu:

  1. memperluas peran manajemen risiko dan kepatuhan sebagai mitra bisnis,
  2. memanfaatkan analitik untuk pengelolaan risiko yang proaktif,
  3. membangun solusi digital lintas fungsi,
  4. mengembangkan talenta yang memahami bisnis dan risiko,
  5. menyesuaikan struktur dan kapasitas fungsi risiko agar tetap relevan dan efisien.

Artikel ini telah diterbitkan oleh BCG, dengan judul Collaboration Can’t Wait in Health Care Risk Management. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.