Oleh: Haris Firmansyah, SE & Sekretariat IRMAPA

Risiko siber masih menjadi ancaman terbesar bagi organisasi di seluruh dunia pada 2025 dan diperkirakan bertahan hingga 2028. Seiring percepatan transformasi digital dan penggunaan kecerdasan buatan (AI), serangan siber dan kebocoran data tidak lagi sekadar masalah teknologi, melainkan risiko strategis yang berdampak langsung pada keuangan, reputasi, dan keberlanjutan bisnis.

Berbagai survei manajemen risiko global menunjukkan bahwa serangan siber konsisten menempati peringkat pertama risiko yang paling dikhawatirkan oleh pelaku usaha. Hal ini sejalan dengan meningkatnya biaya kebocoran data secara global yang mencapai rata-rata USD 4,88 juta pada 2024, angka tertinggi yang pernah tercatat.

Risiko Siber Bukan Lagi Masalah IT Semata

Risiko siber kini dipandang sebagai isu tingkat pimpinan tertinggi organisasi. Digitalisasi bisnis yang masif, adopsi AI, serta sistem yang semakin saling terhubung membuat dampak serangan siber meluas ke seluruh aspek perusahaan.

Brent Rieth, Global Head of Cyber Solutions, menyebut bahwa skala dan kompleksitas risiko siber saat ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menekankan pentingnya menjadikan risiko siber sebagai bagian dari strategi organisasi, bukan hanya urusan teknis. “Mengintegrasikan risiko siber ke dalam strategi pimpinan, mengukur risiko secara serius, dan menjadikan ketahanan sebagai keunggulan bisnis adalah langkah penting,” ujarnya.

Ancaman Risiko Siber Terus Berkembang

Salah satu tantangan terbesar datang dari penerapan AI yang terlalu cepat tanpa pengamanan memadai. Banyak organisasi berlomba memanfaatkan AI generatif untuk efisiensi bisnis, namun mengabaikan aspek keamanan. Riset menunjukkan bahwa kurang dari seperempat proyek AI generatif saat ini dinilai aman, sehingga membuka celah baru bagi peretas.

Selain itu, pelaku kejahatan siber juga memanfaatkan AI untuk meningkatkan skala dan kecepatan serangan. Phishing, ransomware, hingga serangan deepfake menjadi semakin sulit dideteksi. Di kawasan Asia Pasifik, peningkatan serangan deepfake berbasis AI tercatat mendorong kenaikan insiden rekayasa sosial hingga 53 persen, sementara klaim penipuan dan rekayasa sosial melonjak 233 persen secara tahunan.

Fakta lain yang perlu dicermati, tidak ada industri yang benar-benar kebal. Serangan siber telah menimpa sektor ritel, teknologi, layanan kesehatan, hingga rantai pasok pangan. Bahkan organisasi dengan sistem keamanan canggih tetap menjadi target.

Kesiapan Organisasi Menghadapi Risiko Siber

Meski kesadaran meningkat, kesenjangan antara kesiapan dan kenyataan masih besar. Survei menunjukkan 89 persen organisasi mengaku telah memiliki rencana respons terhadap serangan siber. Namun, 14 persen responden tetap mengalami kerugian akibat risiko ini dalam 12 bulan terakhir.

Kondisi ini menegaskan bahwa memiliki rencana saja tidak cukup. Organisasi perlu memastikan kesiapan tersebut diuji, diperbarui, dan relevan dengan pola ancaman terbaru.

Membangun Ketahanan Risiko Siber

Menghadapi risiko siber, pendekatan menyeluruh menjadi keharusan. AI, yang sering dipandang sebagai sumber risiko, justru dapat menjadi alat pertahanan yang efektif jika digunakan dengan tepat. Studi menunjukkan bahwa organisasi yang berinvestasi pada AI dan otomatisasi keamanan mampu menghemat rata-rata USD 2,22 juta per insiden.

Selain teknologi, faktor manusia tetap krusial. Karyawan adalah aset terkuat sekaligus titik terlemah. Pelatihan keamanan siber, khususnya terkait penggunaan AI dan pengelolaan data, terbukti mampu mengurangi kesalahan manusia dan membangun budaya waspada.

Pendekatan berbasis risiko juga menjadi fondasi penting. Organisasi perlu rutin mengevaluasi sistem, menguji rencana respons insiden, mengukur risiko secara kuantitatif, serta mengelola risiko dari pihak ketiga. Satu celah kecil dari mitra atau vendor dapat berdampak pada seluruh ekosistem bisnis.

Risiko Siber sebagai Peluang Strategis

Meski menakutkan, risiko siber tidak selalu bermakna ancaman semata. Organisasi yang mampu mengelola, mengukur, dan mentransfer risiko siber secara efektif justru berada pada posisi lebih kuat untuk melindungi reputasi, menjaga nilai bisnis, dan memanfaatkan peluang di era digital.

Dalam lanskap bisnis yang semakin terhubung, risiko siber menjadi ujian sekaligus pembeda: siapa yang hanya bereaksi, dan siapa yang siap menjadikannya keunggulan strategis.

Artikel ini telah diterbitkan oleh AON, dengan judul Cyber Risk: Turning Uncertainty into Opportunity. Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.